Senin, 20 Mei 2013

ekoefesiensi bahan limbah



TUGAS

MANAJEMEN LINGKUNGAN  INDUSTRI
STRATEGI PENERAPAN EKOEFISIENSI
 
PADA INDUSTRI MINYAK KELAPA




 










Oleh:
ARGA GAUTAMA
E1F111003







UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI PERRTANIAN
BANJARBARU
2013
















PENDAHULUAN

Latar Belakang
     Pohon kelapa merupakan pohon yang paling banyak kegunaannya karena hampir tiap bagian dari pohon tersebut dapat dimanfaatkan. Tidak berlebihan bila pohon kelapa dikenal pula sebagai pohon kehidupan (tree of life). Berbagai ragam industri berbahan baku kelapa telah berkembang mulai dari yang tradisional  seperti minyak kelapa dan kopra sampai kepada pengolahan minyak menjadi senyawa-senyawa kimia yang mempunyai nilai tambah yang tinggi. Adanya potensi bahan baku yang cukup besar serta didukung oleh teknologi pengolahan produk kelapa yang semakin dikuasai memberi peluang dilakukannya diversifikasi produk dan pengembangan pasar di dalam maupun di luar negeri. Selain usaha kopra dan minyaknya, telah dikembangkan pula diversifikasi produk kelapa seperti desiccated coconut, santan, gula semut, nata de coco, air kelapa, berbagai produk makanan dari daging kelapa, serat/sabut kelapa, arang tempurung, arang aktif, mebel kayu dan produk kerajinan lainnya. VCO atau virgin coconut oil (dalam bahasa Indonesia disebut sebagai minyak kelapa murni) merupakan produk modern buah kelapa yang memiliki kemampuan meningkatkan taraf kesehatan, mengobati dan bahkan dimanfaatkan dalam bidang kecantikan atau kosmetika.
     Strategi penerapan ekoefisiensi pada industri minyak kelapa memiliki dampak positif dan menguntungkan bagi banyak pihak yang terlibat berperan serta didalamnya. Strategi ini adalah mengupayakan segala bentuk antisipasi dan pencegahan terhadap terbentuknya limbah dari industri minyak tersebut dengan menerapkan prinsip pengelolaan lingkungan dan atas kepedulian lingkungan, sehingga lingkungan tetap berada pada kelestarian yang sesuai peruntukannya.

Tujuan
     Tujuan dari strategi penerapan ekoefisiensi adalah mengupayakan pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk mengatasi permasalah pencemaran dengan cara mengelola limbah yang terbentuk (end-of pipe treatment), dengan harapan kualitas lingkungan hidup dapat lebih ditingkatkan.

STRATEGI EFISIENSI BAHAN BAKU

  1. Mengurangi penggunaan sumber daya alam yang tidak terbaharui

       Industri minyak kelapa merupakan industri yang bergerak dibidang pengolahan minyak dari bahan baku kelapa. Industri ini menggunakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui yaitu pohon kelapa, sehingga keperluan bahan baku yang digunakan dapat secara kontinu diadakan sesuai kebutuhan dan kapasitas produksinya. Penggunaan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui, selain menguntungkan juga dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan karena adanya siklus daur hidup pohon kelapa yang dapat berperan serta mengurangi dampat emisi global sebagai tanaman hijau.
     Metode lain yang digunakan dalam mengurangi penggunaan sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui adalah dengan mengganti atau memodifikasi bahan bakar yang digunakan dalam proses pengolahan  minyak kelapa yang ramah lingkungan yaitu dari cangkang kelapa itu sendiri dan sebagai pengganti bahan bakar minyak bumi yang sifatnya tidak dapat diperbaharui.

     B.     Menghindari penggunaan energi dan air yang berlebihan
      Penggunaan energi dalam proses agroindustri pembuatan minyak kelapa tidak begitu banyak perannanya. Untuk proses pemarutan dan pemerasan santan dapat digunakan mesin alat parut kelapa, dimana mesin ini memerlukan listrik. Listrik yang diperlukan dapat disesuaikan sesuai kapasitas produksi, sehingga penggunaannya tidak terlalu banyak membutuhkan energi listrik. Pada industri menengah kebutuhan listrik dapat dihemat dengan menggunakan mesin generator sebagai alat pembangkit listrik, namun penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) perlu juga dipertimbangkan agar penggunaan energi saat proses pemarutan dapat dikurangi sehingga lebih efesien.
     Penggunaan air hanya digunakan pada saat proses pencucian buah kelapa. Air pencucian dapat di gunakan berulang-ulang kali pakai namun tidak seterusnya, karena air yang digunakan akan masih tetap bersih meskipun secara fisik sudah keruh. Air dari buah kelapa harus dipisahkan dari air untuk mencuci buah sebab apabila air tersebut tercampur menjadi satu maka akan cepat berbau. Penggunaan air dalam proses pencucian buah kelapa sangat efesien dari segi kualitas air yang digunakan, karena air yang sudah dipakai masih dapat digunakan untuk keperluan mencuci buah kelapa dan pembersihan bagian pabrik lainnya yang dihanggap kotor.

      C.     Mengurangi penggunaan Bahan Berbahaya Beracun (B3)
       Penggunaan bahan berbahaya beracun pada industri pengolahan minyak kelapa dapat dikatakan tidak ada. Proses produksi pembuatan minyak kelapa dapat dilakukan dengan: Pemilihan bahan baku, pemisahan sabut, pembelahan buah kelapa, pemarutan, pemerasan santan, pendiaman santan, pemisahan air dan kanil, pemanasan, pendinginan, penyaringan hingga menjadi minyak kelapa murni. Jadi untuk bahan tambahan yang sifatnya berbahaya dan beracun belum pernah ada kasus yang terjadi yang diakibatkan penggunaan minyak kelapa karena adanya bahan B3 yang dapat merusak tubuh maupun mencemari lingkungan.


STRATEGI DAMPAK LINGKUNGAN

  1. Melakukan Re-use limbah sebagai by product
      Reuse adalah memakai kembali barang-barang yang masih dapat digunakan. Reuse limbah buah kelapa  sebagai by produk banyak sekali manfaatnya yang dapat digunakan. Adapun manfaat limbah sampingan dari buah kelapa selain sebagai bahan pembuatan minyak diantaranya :

     a.    Sabut kelapa.
      Sabut kelapa merupakan bagian yang cukup besar dari buah kelapa, yaitu 35 % dari berat keseluruhan buah. Sabut kelapa terdiri dari serat dan gabus yang menghubungkan satu serat dengan serat lainnya. Serat adalah bagian yang berharga dari sabut. Setiap butir kelapa mengandung serat 525 gram (75 % dari sabut), dan gabus 175 gram (25 % dari sabut). Sabut kelapa dapat digunakan sebagai bahan bakar maupun industri pembuatan kursi sofa berbahan dasar sabut kelapa.

      b.    Tempurung
      Tempurung merupakan lapisan keras yang terdiri dari lignin, selulosa, metoksil dan berbagai mineral. Kandungan bahan-bahan tersebut beragam sesuai dengan jenis kelapanya. Struktur yang keras disebabkan oleh silikat (SiO2) yang cukup tinggi kadarnya pada tempurung. Berat tempurung sekitar 15~19 % dari berat keseluruhan buah kelapa. Tempurung kelapa dapat digunakan sebagai bahan bakar, selain itu juga dapat dijadikan asap cair dalam membuat pengawet ikan alami.

     c.    Daging buah.
      Daging buah merupakan lapisan tebal (8~15 mm) berwarna putih. Bagian ini mengandung berbagai zat gizi. Kandungan zat gizi tersebut beragam sesuai dengan tingkat kematangan buah. Daging buah tua merupakan bahan sumber minyak nabati (kandungan minyak 35 %). Pada tabel 2 dapat dilihat komposisi zat gizi daging buah kelapa. Daging buah kelapa selain dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan minyak, juga dapat digunakan untuk membuat santan cair maupun olahan makanan lainnya.

     d.    Air kelapa.
      Air kelapa mengandung sedikit karbohidrat, protein, lemak dan beberapa mineral. Kandungan zat gizi ini tergantung kepada umur buah. Air kelapa dapat digunakan sebagai media pertumbuhan mikroba, misalnya Acetobacter xylinum untuk produksi nata de coco.

      B.     Melakukan Recycling limbah
      Daur ulang atau Recycle limbah kelapa selain merupakan salah satu usaha pengelolaan limbah supaya keberadaannya tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, juga dapat dipandang sebagai salah satu upaya pengoptimalan eksploatasi limbah kelapa sebagai salah satu sumber daya alam hayati yang terbaharui.Selain itu jika dikaitkan dengan konservasi sumber daya alam, recycle limbah kelapa ini juga bisa dipandang sebagai salah satu upaya pendekatannya dalam menerapkan nilai ekoefisiensi pada suatu industri pembuatan minyak kelapa. Ada beberapa contoh pemanfaatan limbah/sampah padat kayu menjadi barang yang berguna misalnya : cangkang dan sabut kelapa sebagai bahan bakar pengganti minyak, air kelapa sebagai media pembuatan nata de coco, sabut sebagai bahan baku pembuatan kursi sofa dan lain-lain

      C.     Melakukan recovery energi
       Recovery energi dilakukan dengan tujuan untuk memanfaatkan kembali potensi sumberdaya energi yang ada dengan mengupayakan dan mengoptimalkan bahan baku dan limbah yang dihasilkan, sehingga dapat termanfaatkan secara efektif dan efesien dalam menjalankan proses kegiatan produksi. Recovery energi juga merupakan suatu langkah perbaikan  yang dilakukan untuk mendayagunakan dan memanfaatkan potensi yang dimiliki sebagai kategori limbah untuk dijadikan sebagai sumber energi terbarukan dalam memenuhi kebutuhan energi dalam suatu proses industri. Maka dalam industri pengolahan minyak sangat penting sekali dilakukan recovery sebagai bagian dari kepedulian terhadap lingkungan.
      
      D.    Melakukan treatment limbah
       Pengolahan limbah atau treatment limbah adalah kegiatan terpadu yang meliputi kegiatan pengurangan (minimization), segregasi (segregation), penanganan (handling), pemanfaatan dan pengolahan limbah. Dengan demikian untuk mencapai hasil yang optimal, kegiatan-kegiatan yang melingkupi pengelolaan limbah perlu dilakukan dan bukan hanya mengandalkan kegiatan pengolahan limbah saja. Kegiatan pendahuluan pada pengelolaan limbah (pengurangan, segregasi dan penanganan limbah) akan sangat membantu mengurangi beban pengolahan limbah di IPAL. Tren pengelolaan limbah di industri adalah menjalankan secara terintergrasi kegiatan pengurangan, segregasi dan handling limbah sehingga menekan biaya dan menghasilkan output limbah yang lebih sedikit serta minim tingkat pencemarnya. Integrasi dalam pengelolaan limbah tersebut kemudian dibuat menjadi berbagai konsep seperti: produksi bersih (cleaner production), atau minimasi limbah (waste minimization). Secara prinsip, konsep produksi bersih dan minimasi limbah mengupayakan dihasilkannya jumlah limbah yang sedikit dan tingkat cemaran yang minimum. Namun, terdapat beberapa penekanan yang berbeda dari kedua konsep tersebut yaitu: produksi bersih memulai implementasi dari optimasi proses produksi, sedangkan minimasi limbah memulai implementasi dari upaya pengurangan dan pemanfaatan limbah yang dihasilkan.

  
STRATEGI EFESIENSI PRODUK

      A.     Meningkatkan masa penggunaan produk
       Masa penggunaan produk khususnya produk minyak kelapa dinilai sangat penting. Produk umumnya memiliki masa kadaluarsa yang lama sehingga, keberadaan produk dalam suatu tempat masih dapat digunakan sesuai peruntukannya. Produk juga adalah bahan organik yang tergolong ramah lingkungan sehingga potensi sebagai pencemar lingkungan tergolong jarang terjadi. Produk minyak hendaknya disimpan dan ditutup rapat agar tidak teroksidasi oleh oksigen dan kelembaban udara sekitar penyimpanan, sehingga masa dan daya tahan keberadaan produk akan semakin lama umurnya.

      B.     Meningkatkan daya guna produk
       Menurut ISO daya guna adalah tingkat produk dapat digunakan yang ditetepkan oleh user untuk mencapai tujuan secara efektif dan tingkat kepuasan dalam menggunakan (ISO,1998).  Menurut ISO 1998, daya guna atribut terdiri dari :
1.  Efektifitas :  ketelitian dan kelengkapan dimana user mencapai tujuan.
2.  Efisiensi : sumber daya pembelajaran dalam hubungannya dengan ketelitian dan kelengkapan untuk user.
3.  Kepuasan : bebas dari ketidak nyamanan dan sikap positif  dalam menggunakan produk.
     Daya guna produk merupakan salah satu faktor yang digunakan untuk mengukur sejauh mana penerimaan pengguna  sistem terhadap penggunaan produk tersebut secara efesien.




DAFTAR PUSTAKA

Djajadiningrat, Surna T dan Famiola, Melia. 2004. Kawasan Industri Berwawasan Lingkungan. Bandung; Penerbit Rekayasa Sains.

ISO/TR 10014 : 1998.  Guiddeliness for managing the economics of quality.

Naibaho, Ponten M., 1996. Teknologi Pengolahan Kelapa, Medan: Pusat Penelitian Kelapa Sawit.

Soetrisno, Noer. 2008. Peranan Industri Sawit dalam Pengembangan Ekonomi Regional: Menuju Pertumbuhan Partisipatif Berkelanjutan. Medan: Universitas Sumatera.