TUGAS
MANAJEMEN LINGKUNGAN INDUSTRI
STRATEGI
PENERAPAN EKOEFISIENSI
PADA
INDUSTRI MINYAK KELAPA
Oleh:
ARGA GAUTAMA
E1F111003
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI
PERRTANIAN
BANJARBARU
2013
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Pohon kelapa
merupakan pohon yang paling banyak kegunaannya karena hampir tiap bagian dari
pohon tersebut dapat dimanfaatkan. Tidak berlebihan bila pohon kelapa dikenal
pula sebagai pohon kehidupan (tree of life). Berbagai ragam industri berbahan
baku kelapa telah berkembang mulai dari yang tradisional seperti minyak kelapa dan kopra sampai kepada
pengolahan minyak menjadi senyawa-senyawa kimia yang mempunyai nilai tambah
yang tinggi. Adanya potensi bahan baku yang cukup besar serta didukung oleh
teknologi pengolahan produk kelapa yang semakin dikuasai memberi peluang
dilakukannya diversifikasi produk dan pengembangan pasar di dalam maupun di
luar negeri. Selain usaha kopra dan minyaknya, telah dikembangkan pula
diversifikasi produk kelapa seperti desiccated coconut, santan, gula semut,
nata de coco, air kelapa, berbagai produk makanan dari daging kelapa,
serat/sabut kelapa, arang tempurung, arang aktif, mebel kayu dan produk
kerajinan lainnya. VCO atau virgin coconut oil (dalam bahasa Indonesia disebut sebagai
minyak kelapa murni) merupakan produk modern buah kelapa yang memiliki
kemampuan meningkatkan taraf kesehatan, mengobati dan bahkan dimanfaatkan dalam
bidang kecantikan atau kosmetika.
Strategi penerapan ekoefisiensi pada industri minyak kelapa memiliki
dampak positif dan menguntungkan bagi banyak pihak yang terlibat berperan serta
didalamnya. Strategi ini adalah mengupayakan segala bentuk antisipasi dan
pencegahan terhadap terbentuknya limbah dari industri minyak tersebut dengan
menerapkan prinsip pengelolaan lingkungan dan atas kepedulian lingkungan,
sehingga lingkungan tetap berada pada kelestarian yang sesuai peruntukannya.
Tujuan
Tujuan dari strategi penerapan ekoefisiensi adalah mengupayakan pengelolaan
lingkungan yang bertujuan untuk mengatasi permasalah pencemaran dengan cara
mengelola limbah yang terbentuk (end-of pipe treatment), dengan harapan
kualitas lingkungan hidup dapat lebih ditingkatkan.
STRATEGI
EFISIENSI BAHAN BAKU
- Mengurangi penggunaan sumber daya alam yang tidak terbaharui
Industri minyak kelapa merupakan industri yang
bergerak dibidang pengolahan minyak dari bahan baku kelapa. Industri ini
menggunakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui yaitu pohon kelapa,
sehingga keperluan bahan baku yang digunakan dapat secara kontinu diadakan
sesuai kebutuhan dan kapasitas produksinya. Penggunaan sumberdaya alam yang
dapat diperbaharui, selain menguntungkan juga dapat memberikan dampak positif
bagi lingkungan karena adanya siklus daur hidup pohon kelapa yang dapat
berperan serta mengurangi dampat emisi global sebagai tanaman hijau.
Metode lain yang digunakan dalam
mengurangi penggunaan sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui adalah
dengan mengganti atau memodifikasi bahan bakar yang digunakan dalam proses
pengolahan minyak kelapa yang ramah
lingkungan yaitu dari cangkang kelapa itu sendiri dan sebagai pengganti bahan
bakar minyak bumi yang sifatnya tidak dapat diperbaharui.
B.
Menghindari
penggunaan energi dan air yang berlebihan
Penggunaan energi dalam proses agroindustri
pembuatan minyak kelapa tidak begitu banyak perannanya. Untuk proses pemarutan
dan pemerasan santan dapat digunakan mesin alat parut kelapa, dimana mesin ini
memerlukan listrik. Listrik yang diperlukan dapat disesuaikan sesuai kapasitas
produksi, sehingga penggunaannya tidak terlalu banyak membutuhkan energi
listrik. Pada industri menengah kebutuhan listrik dapat dihemat dengan
menggunakan mesin generator sebagai alat pembangkit listrik, namun penggunaan
Bahan Bakar Minyak (BBM) perlu juga dipertimbangkan agar penggunaan energi saat
proses pemarutan dapat dikurangi sehingga lebih efesien.
Penggunaan air hanya digunakan pada saat
proses pencucian buah kelapa. Air pencucian dapat di gunakan berulang-ulang
kali pakai namun tidak seterusnya, karena air yang digunakan akan masih tetap
bersih meskipun secara fisik sudah keruh. Air dari buah kelapa harus dipisahkan
dari air untuk mencuci buah sebab apabila air tersebut tercampur menjadi satu
maka akan cepat berbau. Penggunaan air dalam proses pencucian buah kelapa
sangat efesien dari segi kualitas air yang digunakan, karena air yang sudah
dipakai masih dapat digunakan untuk keperluan mencuci buah kelapa dan
pembersihan bagian pabrik lainnya yang dihanggap kotor.
C.
Mengurangi
penggunaan Bahan Berbahaya Beracun (B3)
Penggunaan bahan berbahaya beracun pada
industri pengolahan minyak kelapa dapat dikatakan tidak ada. Proses produksi
pembuatan minyak kelapa dapat dilakukan dengan: Pemilihan bahan baku, pemisahan
sabut, pembelahan buah kelapa, pemarutan, pemerasan santan, pendiaman santan,
pemisahan air dan kanil, pemanasan, pendinginan, penyaringan hingga menjadi
minyak kelapa murni. Jadi untuk bahan tambahan yang sifatnya berbahaya dan
beracun belum pernah ada kasus yang terjadi yang diakibatkan penggunaan minyak
kelapa karena adanya bahan B3 yang dapat merusak tubuh maupun mencemari
lingkungan.
STRATEGI DAMPAK
LINGKUNGAN
- Melakukan Re-use limbah sebagai by product
Reuse
adalah memakai kembali barang-barang yang masih dapat digunakan. Reuse limbah
buah kelapa sebagai by produk banyak
sekali manfaatnya yang dapat digunakan. Adapun manfaat limbah sampingan dari
buah kelapa selain sebagai bahan pembuatan minyak diantaranya :
a.
Sabut kelapa.
Sabut
kelapa merupakan bagian yang cukup besar dari buah kelapa, yaitu 35 % dari
berat keseluruhan buah. Sabut kelapa terdiri dari serat dan gabus yang
menghubungkan satu serat dengan serat lainnya. Serat adalah bagian yang
berharga dari sabut. Setiap butir kelapa mengandung serat 525 gram (75 % dari
sabut), dan gabus 175 gram (25 % dari sabut). Sabut kelapa dapat digunakan
sebagai bahan bakar maupun industri pembuatan kursi sofa berbahan dasar sabut
kelapa.
b.
Tempurung
Tempurung
merupakan lapisan keras yang terdiri dari lignin, selulosa, metoksil dan
berbagai mineral. Kandungan bahan-bahan tersebut beragam sesuai dengan jenis
kelapanya. Struktur yang keras disebabkan oleh silikat (SiO2) yang cukup tinggi
kadarnya pada tempurung. Berat tempurung sekitar 15~19 % dari berat keseluruhan
buah kelapa. Tempurung kelapa dapat digunakan sebagai bahan bakar, selain itu
juga dapat dijadikan asap cair dalam membuat pengawet ikan alami.
c.
Daging buah.
Daging
buah merupakan lapisan tebal (8~15 mm) berwarna putih. Bagian ini mengandung
berbagai zat gizi. Kandungan zat gizi tersebut beragam sesuai dengan tingkat
kematangan buah. Daging buah tua merupakan bahan sumber minyak nabati
(kandungan minyak 35 %). Pada tabel 2 dapat dilihat komposisi zat gizi daging
buah kelapa. Daging buah kelapa selain dapat dimanfaatkan sebagai bahan
pembuatan minyak, juga dapat digunakan untuk membuat santan cair maupun olahan
makanan lainnya.
d.
Air kelapa.
Air
kelapa mengandung sedikit karbohidrat, protein, lemak dan beberapa mineral.
Kandungan zat gizi ini tergantung kepada umur buah. Air kelapa dapat digunakan
sebagai media pertumbuhan mikroba, misalnya Acetobacter xylinum untuk produksi
nata de coco.
B. Melakukan Recycling limbah
Daur
ulang atau Recycle limbah kelapa selain merupakan salah satu usaha pengelolaan
limbah supaya keberadaannya tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, juga dapat
dipandang sebagai salah satu upaya pengoptimalan eksploatasi limbah kelapa
sebagai salah satu sumber daya alam hayati yang terbaharui.Selain itu jika
dikaitkan dengan konservasi sumber daya alam, recycle limbah kelapa ini juga
bisa dipandang sebagai salah satu upaya pendekatannya dalam menerapkan nilai
ekoefisiensi pada suatu industri pembuatan minyak kelapa. Ada beberapa contoh
pemanfaatan limbah/sampah padat kayu menjadi barang yang berguna misalnya :
cangkang dan sabut kelapa sebagai bahan bakar pengganti minyak, air kelapa
sebagai media pembuatan nata de coco, sabut sebagai bahan baku pembuatan kursi
sofa dan lain-lain
C.
Melakukan
recovery energi
Recovery
energi dilakukan dengan tujuan untuk memanfaatkan kembali potensi sumberdaya
energi yang ada dengan mengupayakan dan mengoptimalkan bahan baku dan limbah yang
dihasilkan, sehingga dapat termanfaatkan secara efektif dan efesien dalam
menjalankan proses kegiatan produksi. Recovery energi juga merupakan suatu
langkah perbaikan yang dilakukan untuk
mendayagunakan dan memanfaatkan potensi yang dimiliki sebagai kategori limbah
untuk dijadikan sebagai sumber energi terbarukan dalam memenuhi kebutuhan
energi dalam suatu proses industri. Maka dalam industri pengolahan minyak
sangat penting sekali dilakukan recovery sebagai bagian dari kepedulian
terhadap lingkungan.
D.
Melakukan
treatment limbah
Pengolahan limbah atau treatment limbah
adalah kegiatan terpadu yang meliputi kegiatan pengurangan (minimization),
segregasi (segregation), penanganan (handling), pemanfaatan dan pengolahan
limbah. Dengan demikian untuk mencapai hasil yang optimal, kegiatan-kegiatan
yang melingkupi pengelolaan limbah perlu dilakukan dan bukan hanya mengandalkan
kegiatan pengolahan limbah saja. Kegiatan pendahuluan pada pengelolaan limbah
(pengurangan, segregasi dan penanganan limbah) akan sangat membantu mengurangi
beban pengolahan limbah di IPAL. Tren pengelolaan limbah di industri adalah
menjalankan secara terintergrasi kegiatan pengurangan, segregasi dan handling
limbah sehingga menekan biaya dan menghasilkan output limbah yang lebih sedikit
serta minim tingkat pencemarnya. Integrasi dalam pengelolaan limbah tersebut
kemudian dibuat menjadi berbagai konsep seperti: produksi bersih (cleaner
production), atau minimasi limbah (waste minimization). Secara prinsip, konsep
produksi bersih dan minimasi limbah mengupayakan dihasilkannya jumlah limbah
yang sedikit dan tingkat cemaran yang minimum. Namun, terdapat beberapa
penekanan yang berbeda dari kedua konsep tersebut yaitu: produksi bersih
memulai implementasi dari optimasi proses produksi, sedangkan minimasi limbah
memulai implementasi dari upaya pengurangan dan pemanfaatan limbah yang
dihasilkan.
STRATEGI EFESIENSI PRODUK
A. Meningkatkan masa penggunaan produk
Masa penggunaan produk khususnya produk
minyak kelapa dinilai sangat penting. Produk umumnya memiliki masa kadaluarsa
yang lama sehingga, keberadaan produk dalam suatu tempat masih dapat digunakan
sesuai peruntukannya. Produk juga adalah bahan organik yang tergolong ramah
lingkungan sehingga potensi sebagai pencemar lingkungan tergolong jarang
terjadi. Produk minyak hendaknya disimpan dan ditutup rapat agar tidak
teroksidasi oleh oksigen dan kelembaban udara sekitar penyimpanan, sehingga
masa dan daya tahan keberadaan produk akan semakin lama umurnya.
B. Meningkatkan daya guna produk
Menurut ISO daya guna adalah tingkat produk
dapat digunakan yang ditetepkan oleh user untuk mencapai tujuan secara efektif
dan tingkat kepuasan dalam menggunakan (ISO,1998). Menurut ISO 1998, daya
guna atribut terdiri dari :
1. Efektifitas :
ketelitian dan kelengkapan dimana user mencapai tujuan.
2. Efisiensi : sumber daya pembelajaran
dalam hubungannya dengan ketelitian dan kelengkapan untuk user.
3. Kepuasan : bebas dari ketidak nyamanan
dan sikap positif dalam menggunakan produk.
Daya guna produk merupakan salah satu faktor yang digunakan untuk
mengukur sejauh mana penerimaan pengguna sistem terhadap penggunaan
produk tersebut secara efesien.
DAFTAR PUSTAKA
Djajadiningrat, Surna T dan Famiola, Melia. 2004. Kawasan
Industri Berwawasan Lingkungan. Bandung; Penerbit Rekayasa Sains.
ISO/TR 10014 :
1998. Guiddeliness for managing the economics of quality.
Naibaho, Ponten M., 1996. Teknologi Pengolahan
Kelapa, Medan: Pusat Penelitian Kelapa Sawit.
Soetrisno, Noer. 2008. Peranan Industri Sawit dalam
Pengembangan Ekonomi Regional: Menuju Pertumbuhan Partisipatif Berkelanjutan. Medan:
Universitas Sumatera.
